Pelatihan Investigasi Penyakit Hewan Bagi Petugas Dinas


Sebagai salah satu langkah yang dilakukan oleh dinas peternakan dan kesehatan hewan dalam rangka peningkatan layanan kesehatan hewan kepada masyarakat di kabupaten sinjai, maka diadakan bimbingan teknis petugas kesehatan hewan berupa pelatihan investigasi penyakit hewan selama 2 hari yaitu tanggal 16-17 Maret 2015 bertempat di kantor Dinas Peternakan dan Keswan Kab. Sinjai yang diikuti oleh para petugas peternakan kecamatan, inseminator dan petugas lapangan lainnya yang berjumlah sebanyak 25 orang. 

Bimbingan tehnik (bintek) ini maksudkan untuk : 1)Meningkatkan kapasitas para petugas dinas dalam penanganan kesehatan hewan, 2) Meningkatkan keterampilan dalam melaporkan kejadian penyakit secara cepat,tepat dan akurat melalui system informasi keswan nasional (I-Iskhnas), 3) Meningkatkan kemampuan dalam menyimpulkan tanda klinis atau patologi yang ditemui dilapangan. Bintek ini difasilitasi oleh Tim AIP-EID Makassar (dr. Geoff Chub dan drh. Anak Agung Putu Wahyuda) dan Koordinator I-Iskhnas Kab. Sinjai (drh. Ratnawati).


Pelatihan Usaha Peternakan Ayam Kampung

Dalam upaya meningkatan pengetahuan dan ketrampilan peternak di kabupaten sinjai oleh dinas peternakan dan kesehatan hewan mengadakan pelatihan usaha peternakan ayam kampung yang diikuti oleh para peternak pada 3 kecamatan yaitu Sinjai Selatan, Sinjai Timur dan bulupoddo.
Pelatihan ini sebagai salah satu langkah untuk pengembangan usaha ayam kampung unggul Sinjai (AKUSI) yang saat ini DOCnya diproduksi oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kab. Sinjai. Bibit anak ayam AKUSI ini jual dengan harga jauh lebih murah dari pulau jawa. Hal ini juga sejalan dengan visi misi Bupati Sinjai lima tahun kedepan untuk bidang peternakan yaitu mengembangkan ternak-ternak lokal dengan memanfaatkan teknologi moderd dan lebih maju.
Menurut Kepala Dinas  Peternakan dan Keswan Kabupaten Sinjai drh.H. Aminuddin Zainuddin, MM pelatihan ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat  tentang bagaimana cara beternak ayam kampung yang baik sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pelatihan ini dilaksanakan selama 3 hari yaitu dari tanggal 3 s/d 5 Februari 2015 yang menghadirkan pemateri drh. H. Aminuddin Zainuddin, MM, drh. Charidjah, Ir. H. Burhanuddin, M.Si, drh. Ratnawati, drh. Mappamancu, M.Anim Sc.

Bimbingan Teknis Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan Hewan

Bimbingan Teknis Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan Hewan yang dilaksanakan oleh Australia Indonesia Partnership for Emering Infectious Disease  (AIP-EID) di Fave Hotel Makassar dari tanggal 29 s/d 31 Oktober 2014. yang dikuti oleh Kab. Sinjai dan Kab. Barruyg  merupakan lokasi proyek percontohan pada program kesehatan hewan di Sulawesi Selatan. Bintek ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada petugas dibagian perencanaan dan dibidang keswan dalam membuat perencanaan yang logis dan terstruktur dan menentukan masalah dan isu strategis  kesehatan hewan dengan menggunakan metode USG (Urgent, Serious, Growth)




.

PEMANTAUAN HEWAN QURBAN

Dalam  rangka menghadapi hari raya idul fitri 1 syawal 1435 H, dimana permintaan akan kebutuhan konsumsi daging meningkat sehingga dinas peternakan dan kesehatan hewan kabupaten sinjai melaksanakan pemantauan dan pengawasan pemotongan di rumah potong hewan (RPH) dan dipasar.

Pemantauan dan pengawasan dilakukan sejak H-5 sampai H+1 lebaran hal ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa daging yang beredar di kabupaten sinjai adalah daging yang layak dan aman di konsumsi.

Sejarah Produksi Susu Sinjai - Susin

Menengok Sejarah persusuan dan pengembangan sapi perah di Kab. Sinjai di mulai tahun 2001, sebenarnya kebijakan tersebut saling tarik menarik. Hanya saja persoalan yang terjadi dilapangan dalam hal ini di tingkat peternak sapi perah selalu tidak sejalan dengan kebijakan yang digelontorkan pemerintah dalam hal ini Dinas Peternakan baik kabupaten dan propinsi sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat. Contohnya, pengembangan dan alokasi bantuan sapi perah di Kab. Sinjai yang barangkali belum menyentuh akar pesoalan yang terjadi di tingkat peternak di daerah penghasil susu nomor satu di sulsel ini.

Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kab. Sinjai, Drh. Aminuddin, setelah setahun ia menjadi kadis peternakan di Kab. Sinjai, saya melihat ada potensi pengembangan sapi perah dan pada saat itu Kepala Dinas Peternakan Prop. Sulsel di jabat oleh Alm.Drh. Amir Hamid, Saya meminta bahwa sapi bantuan yang jumlahnya 6 ekor sapi perah sebaiknya di alokasikan ke Kab.Sinjai, akhirnya jumlah 6 ekor disetujui di alokasikan di Desa Gunung Perak Kec. Sinjai Barat. Dari 6 ekor ini di Kec. Sinjai Barat melihat bahwa pengembangan sapi perah ini mempunya prospek yang sangat bagus karena selain menghasilkan susu untuk di jual juga mendapatkan anak sapi setiap tahun. Ujar Aminuddin.

Sapi perah di Gunung Perak , Sinjai- Sulsel ini jika dibandingkan dengan sapi perah yang ada di Pulau Jawa, maka Sulsel termasuk salah satu wilayah pengembangan baru atau produksi baru persusuan. Mulailah sejak tahun 2001 sampai sekarang ini Dinas peternakan Kab. Sinjai mulai memprogramkan pengadaan sapi perah setiap tahun dan mengalokasikan pengadaan setiap tahun sambil mengembangkan yang sudah ada.

drh. Aminuddin Zainuddin, MM
“Sebenarnya pengembangan sapi perah di sinjai ini pernah mencapai 500 ekor populasi tetapi karena proses ketuaan yakni di afkir oleh peternak, di satu sisi regenerasi yang tidak begitu bagus dan juga kendala saat ini banyaknya pedet umur 3-5 bulan yang mati sehingga terhambat mendapatkan sapi dewasa sehingga regenerasi juga menjadi terhambat”, ungkap Aminuddin yang juga peraih penghargaan Adhikarya Pangan 2011 dari Presiden RI kategori Ketahanan Pangan ini.

Selanjutnya di Tahun 2009 dengan melihat kenyataan itu, Pemda Sinjai melakukan lagi strategi baru yaitu dengan program rearing (pembesaran) tentu dengan bantuan Pemkab Sinjai yakni Bupati memberikan dana yang cukup signifikan untuk membangun sebuah rearing dengan kapasitas 60 ekor. Di Tahun 2010 mulai berhasil dengan mendapatkan dan membesarkan pedet kurang lebih 80 ekor dan program rearing itu tetap berjalan sampai sekarang. Begitu pula strategi pengembangan di masyarakat atau di anggota kelompok ternak dengan merubah sedikit yang tadinya di awal pengembangan sapi perah ini kita mementingkan pemerataan dari anggota tetapi sekarang pihak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sinjai mencoba mengubah strategi dengan menghampiri skala ekonomi dengan setiap 1 orang petani memiliki minimal 3 – 5 ekor sapi perah.

“Pemeliharaan sapi perah oleh masyarakat ini secara ekonomi bisa menambah income untuk biaya sekolah dsb, yang jelas untuk mensejahterahkan para peternak”, katanya.

Di dalam perjalanan pengembangan usaha sapi perah ini di Desa Gunung Perak banyak berkaitan dengan produksi susu yang dihasilkan. Selain komoditas utamanya adalah susu pasteurisasi dengan nama dagang “Susin” dengan kemasan gelas (cup) dengan volume 150 cc, juga produk susu sinjai tersebut dilakukan berbagai diversifikasi produk. Contohnya es krim dan kerupuk susu.

“Di Tahun 2012 ini kita mencoba memulai karamel susu, dodol susu, yoghurt, mentega dan sebagainya, dan tinggal bagaimana membentuk kelompok-kelompok pengolahan yang ada di Kab. Sinjai”, ungkap Aminuddin yang lulusan Fakultas Kedokteran Hewan IPB Bogor ini

Sapi perah yang ada di Sinjai Barat ini kebanyakan didatangkan dari Jawa Timur, dan sebagian lainnya dari BPTU Batu Raden. Dengan dasar pemikiran iklim Desa Gunung Perak, ke depannya pihak Dinas Peternakan menyarankan pengadaaan ternak sapi perah di arahkan agar kelompok ternak untuk mengambil di Kab. Malang, Jawa Timur.

Selain itu pengembangan sapi perah sebelum di lakukan di Kab. Sinjai, yang memulai lebih dulu adalah Kab. Enrekang Sulsel yang dikenaal dengan produksi Dangkenya. Melihat peluang tersebut, selaku Kepala Dinas Peternakan yang baru saya jabat 1 tahun waktu itu mengatakan bahwa ada satu potensi kecamatan di Sinjai Barat sangat bagus untuk pengembangan sapi perah terutama iklimnya yang dingin ditambah hijauan berlimpah ruah serta dukungan SDM petaninya yang sangat bagus dan sudah terbiasa dengan pola kawin suntik (IB). Sapi perah ini umumnya dikawinkan dengan teknologi Inseminasi Buatan. Dengan begitu tidak perlu lagi memperkenalkan teknologi tersebut kepada mereka. dan inilah cikal bakal pengembangan sapi perah di Kab. Sinjai, Sulsel hingga sekarang ini.

Soal pemasaran susu di Kab. Sinjai – Sulsel tidak ada kendala, hanya memang harga saat ini masih kisaran 2000 - 2500 rupiah per liter. Apa yang diungkapkan oleh Rajab sebagai ketua kelompok ternak “Batuleppa” adalah wajar karena peran pemerintah disini masih memberikan subsidi sekitar 80 %, namun harga 2000 perliter jika di kalkulasi masih lebih tinggi dibanding dengan harga di tingkat peternak di Jawa. Kedepannya, subsidi akan dikurangi agar nanti harga per liternya bisa lebih bagus.
“Seharunya pihak Dinas Peternakan Propinsi Sulsel yang harus berpikir bahwa pengembangan sapi perah ini tidak begitu sama dengan pengembangan sapi potong terutama peternak yang akan memelihara sapi perah. Diperlukan SDM, pelatihan yang bagus, pemodalan, manajemen; pemberian pakannya, bagaimana cara memerah sapi yang baik sehingga susu yang dihasilkan bersih (hygine) dan sebagainya.”, Ungkap Aminuddin yang sudah 13 tahu menjabat Kepala Dinas Peternakan di Sinjai ini.

Dan yang tak kalah pentingnya yang perlu dipikirkan adalah bagaimana membantu pemasaran hasil susu para peternak di Sinjai. Saat ini kami mempunyai program PPMTAS (Program pemberikan makanan tambahan pada anak sekolah) kerjasama dengan Dinas Pendidikan Kab. Sinjai dalam memasarkan susu peternak.
Terlepas dari itu, kini Rajab bersama kelompok ternaknya bersusah payah sekuat tenaga untuk terus bertahan dengan usaha sapi perahnya. Yang menjadi harapan besar Rajab sebagai perintis persusuan di Sinjai tersebut adalah bagaimana usaha sapi perah yang ia rintis bersama kelompok ternaknya bisa lebih berkembang dan membawa perubahan bagi Desanya. Peran Pemerintah dengan produksi susu sinjai harus benar-benar memberikan kesejahteraan bagi diri dan anggota peternaknya. Insya Allah, saya yakin jika semua berjalan dengan niat yang baik, maka tak ada yang tak mungkin jika suatu saat persusuan Sinjai akan sama dengan di Jawa, tukas Rajab dengan wajah penuh optimis.
 
DINAS PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN KAB. SINJAI
Kantor : Jl. Lamatti Kab. Sinjai
Telp. 0482-21431, Fax. 0482-23092
E-Mail : disnakkeswan.sinjai@gmail.com